Inilah Yang Akan Terjadi Pada Anakmu! Aku Sering Membentak Anaku Dulu, Tapi Setelah Membaca Ini Aku Menyesal Dan Tidak Akan Mengulanginya Lagi!

Posted on

Menjadi orangtua tak semudah membalikkan telapak tangan. Apa pun yang Anda lakukan dan katakan akan membentuk kepribadian dan pola pikir anak. Ini berarti Anda harus sangat berhati-hati dalam bertindak maupun berkata-kata. Namun, ada kalanya Anda hilang kesabaran saat menghadapi anak dan akhirnya kelepasan menghardik atau membentak dengan nada yang keras. Anda tidak sendirian, hampir semua orangtua pernah sampai pada titik ini. Membentak bukanlah cara terbaik untuk berkomunikasi dengan anak.

Berdasarkan penelitian bahwa pada setiap kepala seorang anak, maka akan terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang sudah siap tumbuh (banyak sekali). Akan tetapi satu bentakan, perkataan kasar, makian atau yang semacamnya kepada anak yang masih dalam masa pertumbuhan akan berakibat sangat fatal, dan hal ini merupakan bukan sebuah perkara yang kecil atau enteng.

1. Bahaya membentak anak karena memusnahkan sel otak anak

Karena bentakan atau perkataan yang kasar dapat membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Dan bahkan sebuah pukulan atau cubitan yang disertai dengan bentakan maka akan membunuh lebih dari bermilyar-milyar sel otak saat itu juga. Akan tetapi sebaliknya, dengan 1 pujian, kehangatan pelukan dan kasih sayang maka akan membangun dengan sangat baik bibit kecerdasan seorang anak… yang membuat perkembangan otak anak yang sangat cepat. Hasil penelitian tersebut dari seorang yang bernama Lise Gliot, dia berkesimpulan seperti itu, pada anak yang masih dalam pertumbuhan, terutama pada masa “golden age” yaitu pada umur 2-3 tahun.

Suara hanya cenderung lebih keras, maka sudah menjadi masalah. Lise Gliot menjelaskan bahwa suara yang keras dan bentakan yang keluar dari orang tua dapat merusak atau menggugurkan sel otak anak yang sedang tumbuh. Sedangkan ketika sang ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui anaknya, maka rangkaian otak terbentuk indah. Penelitian Lise Gliotini ini, dengan melakukan penelitian pada objeknya yaitu anaknya sendiri. Dia berinisiatif memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monitor komputer, dengan begitu akan terlihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. Dan dia menyatakan bahwa hasilnya sangat luar biasa, saat sang anak menyusui sang anak maka akan terbentuk rangkaian indah pada sel otak anak. Namun ketika dia terkejut ketika ada suara yang sedikit keras, maka rangkaian indah sel otak yang menggelembung seperti balon tersebut pecah berantakan, dan kemudian juga terjadi perubahan warna.

Dari penelitian yang dilakukan Lise Gilot ini menjelaskan bahwa pengaruh marah dan bentakan pada anak akan sangat mempengaruhi perkembangan sel otak anak. Bahaya, apabila hal tersebut dilakukan secara sering bahkan tidak terkendali, maka dapat berpotensi besar untuk mengganggu struktur otak anak itu sendiri. Hati-hati ketika ingin memarahi anak. Sang peneliti Lise Gilot memberikan nasihat bahwa kita harus berhati-hati dalam memarahi sang anak. Dan tidak hanya itu saja, hal itu juga akan mengganggu fungsi organ-organ penting di dalam tubuh seperti hati, jantung dan yang lainnya. Efek dari kerusakan pada sel-sel otak karena bentakan lebih besar pengaruhnya pada anak-anak. Adapun pada remaja dan orang dewasa juga berpotensi mengalami kerusakan, tetapi tidak sebesar dengan yang disertai oleh anak-anak.

Bentakan kepada sang anak akan mengakibatkan hal yang fatal, efek jangka panjangnya dapat dilihat pada orang-orang yang sering mengalami bentakan di masa lalunya (masa kecilnya) orang-orang tersebut akan lebih banyak melamun, dan juga lambat dalam memahami sesuatu. Kemudian juga biasanya akan mudah untuk meluapkan rasa marah, panik dan sedih. Mereka biasanya akan seringkali mengalami stress hingga depresi dalam hidup. Hal ini karena kesulitan dalam memahami pola-pola masalah yang mereka hadapi. Dan itu semua adalah akibat dari sedikitnya sel-sel otak yang aktif dari yang seharusnya.

2. Karena dibentak, jantung anak bisa kelelahan

Menurut penjelasan dr Godeliva Maria Silvia Merry, M.Si, dokter yang juga pengajar di UKDW, Yogyakarta, dia menjelaskan bahwa denyut nadi seseorang dapat berubah-ubah yang tergantung dari suara yang didengar. Sehingga, apabila orang tua “hobi” membentak anak dengan nada tinggi, maka dr Silvia menjelaskan bahwa anak jika terus-terusan terpapar dengan suara bernada kasar dan tinggi mengakibatkan organ jantung sang anak akan sering berdetak dengan sangat cepat (abnormal), yang menyebabkan jantung menjadi mudah kelelahan. Bahaya yang sama juga bisa terjadi pada orang yang sering mendengarkan musik berirama cepat.

3. Dampak psikologis membentak anak

Ketika Anda masih kecil dan orangtua membentak Anda, apa yang Anda rasakan? Tentu rasanya sungguh menakutkan, bukan? Padahal, Anda hanya melakukan kenakalan yang wajar dilakukan anak-anak seumur Anda saat itu. Anda tidak memahami mengapa orangtua bisa begitu marah pada Anda. Bukannya jadi menghormati dan menghargai orangtua, tapi Anda justru merasa ciut, kesal, dan terancam. Begitu juga yang akan dirasakan anak ketika Anda kelepasan membentak. Tujuan Anda untuk mendisiplinkan anak tidak akan tercapai karena anak justru merasa Anda sedang menyerang mereka.

Di samping itu, menghardik ternyata bisa memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis anak dalam jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang semasa kecil dibentak-bentak oleh orang tuanya lebih berisiko mengalami gangguan perilaku dan depresi akibat trauma masa kecil ini. Anak juga akan tumbuh sebagai orang yang lebih agresif secara fisik maupun verbal. Mereka terbiasa melihat agresi atau bentakan sebagai bentuk penyelesaian masalah. Maka ketika mereka sedang menghadapi masalah, solusi yang terpikirkan adalah agresi pula sehingga Anak tak akan ragu menghardik orang lain. Jika bentakan Anda diikuti dengan kata-kata yang menyakitkan atau menghina, anak akan kehilangan kepercayaan diri dan hidup dalam kegelisahan. Jika Anda kelepasan membentak anak, simak baik-baik informasi di bawah ini.

Yang bisa Anda lakukan setelah kelepasan membentak anak

Jika Anda kehilangan kesabaran dan kelepasan membentak anak, jangan terbawa emosi. Anda masih bisa mengikuti langkah-langkah di bawah ini agar anak tidak merasa trauma. Hubungan Anda dengan anak pun akan tetap terjaga kehangatannya.

1. Tarik napas dalam

Segera setelah Anda kelepasan membentak atau menyakiti hati anak, tarik napas panjang paling sedikit tiga kali. Jangan berkata-kata apa pun sampai Anda sudah melakukan hal ini. Ketika Anda sedang dilanda emosi, tubuh Anda jadi lebih tegang. Napas Anda pendek, otot-otot menegang, dan jantung Anda berdebar dengan hebat. Menarik napas dalam bisa membantu tubuh lebih rileks sehingga Anda bisa berpikir lebih jernih.

2. Minta maaf dan bertanggung jawab

Ajari anak bahwa melakukan kesalahan itu bukan akhir dunia dan meminta maaf itu penting. Akui kesalahan Anda dan minta maaflah pada anak dengan nada yang tenang. Anda bisa berkata, “Maaf ya, nak. Ayah dan Ibu jadi terbawa emosi tadi dan membentakmu.”

3. Mulai lagi dari awal

Ketika Anda membentak-bentak, anak tidak akan sepenuhnya memahami isi perkataan Anda. Jadi setelah meminta maaf, pastikan bahwa emosi Anda telah mereda dan tawari anak untuk memulai kembali percakapan Anda dari awal, tanpa luapan emosi atau bentakan.

4. Jangan memaksakan pembicaraan saat itu juga

Apabila Anda tidak berhasil menenangkan diri, jangan memaksakan diri untuk menyelesaikan pembicaraan dengan anak saat itu juga. Ambil jeda sesaat dan tentukan waktu yang Anda butuhkan agar ketegangan antara Anda dan anak tidak berlarut-larut. Misalnya, katakan bahwa saat ini Anda sedang marah besar dan Anda ingin membereskan cucian dulu sambil menenangkan diri. Setelah itu, lanjutkan kembali pembicaraan Anda dengan anak.

5. Ingatkan anak bahwa Anda mencintai mereka

Sehabis dibentak, anak Anda akan merasa kecil hati. Pada titik ini, penting bagi Anda untuk mengingatkan anak bahwa Anda mencintai mereka dan Anda hanya sedang merasa lelah dan penuh emosi.

Tips untuk menahan diri membentak anak

Pada kesempatan selanjutnya, jangan sampai Anda kehilangan kesabaran lagi. Terapkan langkah-langkah berikut untuk menahan diri saat berada di puncak emosi.

1. Kenali emosi dan perasaan Anda

Pahamilah apa yang membuat Anda mengamuk dan kapan Anda mulai terbawa emosi. Misalnya, setiap pulang kerja Anda jadi lebih sensitif. Sadari hal ini dan jangan dijadikan pembenaran untuk memarahi anak. Perhatikan dan jaga nada suara Anda saat berbicara agar tidak meledak-ledak.

2. Bicarakan dengan tenang tapi tegas

Untuk memastikan Anda tidak menegur anak secara berlebihan, pilih posisi berbicara yang nyaman, misalnya sambil duduk bersama, bukan berdiri. Usahakan juga untuk tidak menegur anak di depan orang lain seperti kakak dan adiknya atau asisten rumah tangga supaya Anda terhindar dari tekanan untuk mendisiplinkan anak terlalu keras.

Loading...
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *